budaya organisasi
KNOWLEDGE

Budaya Organisasi dan Apa Saja Indikatornya

1. Pengertian Budaya Organisasi

Kali ini kita akan membahas mengenai budaya organisasi. Budaya ialah suatu pola asumsi dasar yang ditemukan dan dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu karena mempelajari dan menguasai masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal, yang telah bekerja dengan cukup baik untuk dipertimbangkan secara layak dan karena itu diajarkan pada anggota baru sebagai cara yang dipersepsikan, berfikir dan dirasakan dengan benar dalam hubungan dengan masalah tersebut (Schein, E. 1997:12) dalam (Wibowo, 2013:15)

Sementara itu dalam pandangan Cartwright, J. (1999:11) dalam Wibowo (2013:15), budaya adalah penentu yang kuat dari keyakinan sikap dan perilaku orang dan pengaruhnya dapat diukur melalui bagaiman orang termotivasi untuk merespons pada lingkungan budaya mereka. Atas dasar itu, Cartwright mendefinisikan budaya organisasi sebagai kumpulan orang yang terorganisasi yang berbagi tujuan, keyakinan dan nilai-nilai yang sama, dan dapat diukur dalam bentuk pengaruhnya pada motivasi.

Budaya ditujukan sebagai cara hidup orang yang dipindahkan dari generasi ke generasi melalui berbagai proses pembelajaran untuk menciptakan cara hidup tertentu yang paling cocok dengan lingkungannya.

Menurut Peghan, B. (2000:1) dalam Wibowo (2013:18), Organizational culture adalah tentang bagaimana orang merasa tentang melakukan pekerjaan baik dan apa yang membuat peralatan dan orang bekerja bersama dalam harmoni. Organizational culture merupakan pola yang rumit tentang bagaimana orang melakukan sesuatu, apa yang mereka yakini, apa yang dihargai dan dihukum. Adalah tentang bagaimana dan mengapa orang mengambil pekerjaan yang berbeda dalam perusahaan.

2. Asas Budaya Organisasi

Apabila kita memerhatikan beberapa literature Organizational culture, sering kali kita dikejutkan dengan penggunaan terminology budaya dan budaya organisasi diantara para penulis. Ada penulis yang membedakan secara tegas penggunaan kata budaya dan budaya organisasi.

Baca Juga:  Kompensasi itu apa? dan Apa Saja Indikatornya

Tidak kurang pula yang menggunakan kata tersebut dengan saling menggantikan secara bergantian. Menurut pemahaman kami, budaya mengandung pengertian lingkup yang lebih luas. Bangsa-bangsa di dunia mempunyai budaya sendiri yang menjadi budaya nasional. Dalam suatu negara mungkin terdapat berbagai suku yang mempunyai budaya tersendiri, sebagai subkultur berdasarkan kesukuan atau kewilayahan.

Demikian pula tentang organisasi, berbagai penulis menggunakan terminology firm, company, corporation, corporate, atau organization. Bahkan kadang-kadang menggunakan terminology tersebut secara bergantian. Kesemuanya menunjukan entitas yang berdiri sendiri secara mandiri. Pada hakikatnya, yang dimaksud dengan budaya organisasi adalah budaya yang menjadi acuan di dalam suatu organisasi di mana terdapat sekelompok orang yang melakukan interaksi.

Mencerminkan persepsi umum yang dilakukan oleh seluruh anggotanya. Karenanya dapat diharapkan bahwa individu dengan latar belakang berbeda atau pada tingkat yang berbeda dalam organisasi akan cenderung menjelaskan budaya organisasi dengan terminology yang sama.

Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa dalam suatu organisasi hanya terdapat satu budaya tunggal. Di dalam Organizational culture masih terbuka kemungkinan adanya satu atau dua lebih subkultur. Kebanyakan organisasi besar mempunyai dominant culture dan sejumlah subculture.

2.1 Ciri-ciri budaya organisasi :

  • Perusahaan tidak hanya mempunyai satu, tetapi beberapa budaya. Organisasi mungkin mempunyai satu dominant culture dan beberapa subculture yang berbeda.
  • Organizational culture cenderung berubah sepanjang waktu. Perusahaan baru kemungkinan ukurannya masih kecil dan bersahabat, yaitu bersifat komunal, tetapi bergerak naik dan turun, dan budayanya mungkin juga berubah. Dengan kata lain, budaya organisasinya tidak lengkap, tetapi bersifat dapat berubah sepanjang waktu.
  • Tidak perlu satu budaya, lebih baik atau lebih buruk dari lainnya. Semua budaya mempunyai aspek positif dan negatif. Yang menarik adalah bahwa beberapa organisasi dapat sukses ketika mempunyai budaya tertentu walaupun mungkin sangat tidak cocok pada perusahaan lain.

3. Teori Budaya Organisasi

Sebuah teori komunikasi mengenai semua simbol komunikasi seperti tindakan, rutinitas, dan percakapan dan makna yang dilekatkan pada simbol komunikasi seperti tindakan, rutinitas, dan percakapan dan makna yang dilekatkan pada simbol tersebut. Konteks perusahaan, budaya organisasi dianggep sebagai salah satu strategi dari perusahaan dalam meraih tujuan serta kekuasaan. Ada beberapa asumsi dasar Teori budaya organisasi yakni sebagai berikut:

  • Anggota-anggota organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama akan suatu realitas organisasi menciptakan dan mempertahankan perasaan yang dimiliki bersama akan suatu realitas organisasi, yang berakibat akan suatu pemahaman yang lebih baik terhadap nilai-nilai sebuah organisasi. Pokok dari asumsi ini adalah nilai yang dimiliki organisasi. Nilai merupakan standar dan prinsip-prinsip yang terdapat dalam sebuah budaya.
  • Penggunaan dan pemahaman simbol yang sangat penting dalam budaya organisasi. Ketika seseorang memahami simbol tersebut, maka seseorang akan mampu bertindak menurut budaya dari organisasinya.
  • Budaya bervariasi dalam organisasi-organisasi yang berbeda, dan interpretasi tindakan juga bervariasi. Setiap organisasi mempunyai budaya yang berbeda-beda dan setiap individu dalam organisasi tersebut memiliki penafsiran budaya dengan berbeda. Lazimnya perbedaan budaya dalam organisasi justru menjadi kekuatan dari organisasi sejenis lainnya.
Baca Juga:  Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

4. Indikator Budaya Organisasi

Budaya organisasi dalam suatu organisasi yang satu dapat berbeda dengan yang ada dalam organisasi yang lain. Namun hal tersebut menunjukkan ciri-ciri, sifat, atau karakteristik tertentu yang menunjukkan karakteristik budaya organisasi sangat bervariasi. Hal tersebut menunjukkan beragam ciri, sifat dan elemen yang terdapat dalam Organizational culture.

Robbins dan Judge (2012:512) juga mengemukakan adanya tujuh Indikator yang mempengaruhi Budaya Organisasi, namun dengan perincian sedikit berbeda, apabila dibandingkan dengan pendapat Jerald Greenberg dan Robert A. Baron.

4.1 Innovaion and risk taking (inovasi dan pegambilan risiko)

Sejauh mana para anggota organisasi didorong untuk bersikap inovatif dan berani mengambil risiko.

4.2 Attention to detail (perhatian pada hal detail)

Sejauh mana anggota organisasi diharapkan untuk memperlihatkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap hal detail.

4.3 Outcome orientation (orientasi pada manfaat)

Di mana manajemen memfokuskan pada hasil atau manfaat daripada sekedar pada teknik dan proses yang dipergunakan untuk mendapatkan manfaat tersebut.

4.4 People orientation (orientasi pada orang)

Sejauh mana keputusan yang dibuat oleh manajemen memperhitungkan efek terhadap anggota-anggota organisasi.

4.5 Team orientation (orientasi pada tim)

Di mana aktivitas kerja diorganisasi berdasarkan tim daripada individual.

4.6 Aggressiveness (agresivitas)

Sejauh mana anggota-anggota organisasi berprilaku secara agresif dan kompetitif dibandingkan dengan berperilaku secara tenang.

4.7 Stability (stabiltas)

Dimana aktifitas organisasi menekan pada menjada status quo sebagai lawan dari perkembangan.

5. Fungsi Budaya Organisasi

Fungsi budaya organisasi, menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2001:73) dalam Wibowo (2013:49) adalah:

  • Memberi anggota identitas organisasional, menjadikan perusahaan diakui sebagai perusahaan yang inovatif dengan mengembangkan produk baru. Identitas organisasi menunjukkan ciri khas yang membedakan dengan organisasi lain yang mempunyai sifat khas yang berbeda.
  • Memfasilitasi komitmen kolektif, perusahaan mampu membuat pekerjanya bangga menjadi bagian daripadanya. Anggota organisasi mempunyai komitmen bersama yang harus dicapai.
  • Meningkatkan stabilitas sistem sosial sehingga mencerminkan bahwa lingkungan kerja dirasakan positif dan diperkuat, konflik dan perubahan dapat dikelola secara efektif. Dengan kesepakatan bersama tentang Organizational culture yang harus dijalani mampu membuat lingkungan dan interaksi sosial berjalan dengan stabil dan tanpa gejolak.
  • Membentuk perilaku dengan membantu anggota menyadari atas lingkungannya. Organizational culture dapat menjadi alat untuk membuat orang berpikiran sehat dan masuk akal.
Baca Juga:  Motivasi Intrinsik - Contoh Indikator dan Pengertiannya

6. Contoh Budaya Organisasi

6.1 Kerapihan Administrasi

Budaya organisasi dalam hal kerapihan administrasi, merupakan yang harus dihidupkan dalam organisasi, baik itu surat-menyurat, keuangan, pendapatan karyawan, barang masuk/keluar, dan sebagianya yang membantu dalam kinerja organisasi.

6.2 Pembagian Wewenang yang Jelas

Hal ini merupakan kunci yang dapat menentukan keberhasilan akan kinerja dalam perusahaan. Tanpa adanya pembagian wewenang kinerja mungkin para anggota atau karyawan dalam perusahaan tersebut akan kebingungan mana yang dijalankan dan mana yang tidak.

6.3 Kedisiplinan

Kedisiplinan merupakan budaya organisasi yang melekat dimana pun berada. Dimana disiplin merupakan karakter dari orang-orang sukses yang dapat menghargai waktu.

6.4 Inovasi

Budaya organisasi biasanya akan mendorong anggota team untuk melahirkan suatu ide-ide kreatif dan inovasi baru untuk tujuan organisasi yaitu kemajuan organisasi.

7. Kesimpulan

Dalam pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi adalah filosofi dasar organisasi yang memuat keyakinan, norma-norma, dan nilai-nilai bersama yang menjadi karakteristik inti tentang bagaimana cara melakukan sesuatu dalam organisasi. Keyakinan, norma -norma, dan nilai-nilai tersebut menjadi pegangan semua sumber daya manusia dalam organisasi dalam melaksanakan kinerjanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *